Seminar Awam RSUI Peringati Hari Lupus Sedunia: Kenali Lupus dari Perspektif Medis dan Dukungan bagi Odapus

WOMERA.ID – Seminar Awam RSUI Peringati Hari Lupus Sedunia: Kenali Lupus dari Perspektif Medis dan Dukungan bagi Odapus

Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) mengadakan Seminar Awam pada tanggal 11 Mei 2023, dengan tema “Bicara Sehat RSUI ke-81 Spesial Hari Lupus Sedunia: Kenali Lupus, Dukung dan Sayangi Odapus”. Acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit lupus, serta memberikan informasi dan dukungan bagi para penderita lupus yang disebut Odapus.

Seminar tersebut dihadiri oleh para ahli dan narasumber di bidang kesehatan dan aktivis lupus, termasuk Dr. dr. Alvina Widhani, Sp.PD-KAI, yang membahas mengenai pengenalan lupus sebagai penyakit seribu wajah. dr. Alvina mengatakan lupus adalah penyakit seribu wajah karena gejala antara satu penderita lupus dengan penderita yang lainnya tidak sama. 

“Jadi memang lupus ini sangat bervariasi sekali ya, antara satu Odapus dengan Odapus yang lain mungkin gejalanya bisa berbeda. Ada yang ringan, namun ada yang sejak awal sudah berat, dan juga gejalanya ini bisa menyerupai penyebab yang lain. Jadi satu gejala tidak hanya disebabkan oleh lupus tapi disebabkan oleh penyakit lain, sehingga sering kali mungkin terlambat dikenali,” ucap Alvina.

Alvina juga menjelaskan bahwa lupus merupakan penyakit autoimun yang mengganggu sistem kekebalan tubuh yang ditandai dengan produksi antibodi yang menyerang jaringan sehat dalam tubuh. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh bereaksi secara tidak normal. Sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel tubuh yang sehat karena mengenali sel-sel tersebut sebagai ancaman yang menyebabkan kerusakan di berbagai organ.

Selain itu, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A, juga membahas mengenai penyakit lupus pada anak. dr. Annisa mengatakan bahwa sebenarnya lupus pada anak dan pada orang dewasa kurang lebih sama, namun ada beberapa hal yang mungkin berbeda. Lupus pada anak ini menjadi konsen sendiri, karena di beberapa penelitian dan disetujui secara global bahwa SLE pada anak perjalanan sakitnya lebih berat dan perkembangannya sulit diduga. Kerusakan organ lebih cepat, karena biasanya anak sudah terkena gagal ginjal atau gagal hati dari beberapa pengalaman dr. Annisa.

“Lupus pada anak memerlukan pengawasan medis jangka panjang yang berkesinambungan dan memerlukan berbagai disiplin ilmu hingga dewasa yang dibawa dari anak-anak. Biasanya terjadi pemindahan dari dokter anak ke dokter dewasa yang mungkin akan mengalami terapi yang berbeda,” ucap dr. Annisa.

Sementara Tiara Savitri, seorang aktivis lupus yang merupakan ketua dari Yayasan Lupus Indonesia turut membagikan pengalamannya dan bagaimana untuk memerangi lupus dari perspektifnya sendiri, karena Tiara juga merupakan seorang Odapus sejak 1987. 

“Alasan saya membentuk Yayasan Lupus ini karena pada saat itu saya merasa sendiri, dokter sangat susah untuk diajak berkomunikasi, dokter juga masih sangat langka, dan saya tidak bisa berkomunikasi dengan teman-teman. Jadi saya buta tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang dilarang,” ungkap Tiara.

Seminar awam yang disiarkan secara live di platform youtube dan dihadiri oleh kurang lebih dua ratus peserta zoom meeting ini berhasil memberikan informasi yang berharga dan bermanfaat bagi peserta terutama bagi Odapus dan keluarganya, serta menunjukkan pentingnya dukungan dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi penyakit lupus. Hal ini sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup dan membantu penderita lupus dalam mengelola gejala penyakitnya.-AM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *