Alibih Kasian, Dokter Gigi di Bali Aborsi 1.338 Perempuan Hingga Berkali Kali Masuk Penjara.

WOMERA. ID Seorang Dokter gigi berinisial IKAW (53) ribuan kali melakukan aborsi illegal terhadap perempuan dengan alasan kasihan. Terhitung sejak April 2020 hingga Mei 2023, sebanyak 1.338 perempuan telah ia aborsi. Mayoritas pasien merupakan pelajar SMA, mahasiswa, dan pekerja yang belum menikah.

IKAW alias I Ketut Arik Wiantara, tersangka kasus ini ternyata pernah dua kali ditangkap dengan kasus serupa. Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Bali AKBP Ranefli Dian Candra menyampaikan bahwa Arik pernah dipenjara berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Denpasar pada tahun 2006 dengan vonis 2,5 tahun pidana penjara lalu pada 2009 dia kembali melakukan praktik aborsi ilegal.  Ranefli menambahkan, pelaku tidak memiliki lisensi sebagai dokter kandungan. Dalam menjalankan aksinya, pelaku belajar secara otodidak dan mulai berpraktik sejak 2006. Sehingga masih belum diketahui jumlah pasti janin yang telah diaborsi, namun diperkirakan lebih banyak berkali-kali lipat dari jumlah yang telah diketahui saat ini.

https://thumb.tvonenews.com/thumbnail/2023/05/15/6461f2ddedbc1-dokter-gigi-aborsi-1338-janin-ditangkap-polda-bali_1265_711.jpg

“Yang bersangkutan belajar secara autodidak dari online, dari buku-buku kemudian memahami mekanisme dari cara aborsi tersebut,” tutur  Ranefli.

Dalam melakukan praktik illegal tersebut, pelaku dibantu asisten rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah pasca tindakan aborsi. Saat digrebek pihak kepolisian, Arik baru saja selesai melakukan aborsi terhadap seorang wanita yang ditemani kekasihnya.  Tersangka ditangkap pada 8 Mei 2023 pukul 21.30 WITA di Jalan Raya Padang Luwuh, Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Tersangka ditangkap bersama dengan ketiga orang lainnya yang masih berstatus sebagai saksi.

Kepada Penyidik Ditreskrimsus Polda Bali, tersangka mengaku melakukan tindakan praktik aborsi tersebut sebab merasa kasihan dengan pasien yang datang kepadanya. Atas perbuatannya tersebut, tersangka dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 77 Juncto Pasal 73 ayat (1) Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Ia diancam hukuman lima tahun penjara dan denda Rp150 juta. Selain itu, pelaku juga dijerat dengan Pasal 78 juncto pasal 73 ayat (2) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dengan ancaman hukumannya lima tahun penjara dan denda Rp150 juta. Serta tersangka juga melanggar Pasal 194 Jo pasal 75 ayat (2) UU RI No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda Rp10 miliar.-SS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *