Kenapa Anak lebih Nyaman Curhat dengan Teman, daripada Orang Tuanya?

WOMERA.ID – Sebagai  anak pasti banyak melewati banyak proses, pastinya perlu dibagikan dan diceritakan kepada seseorang paling dekat yaitu orangtua. Namun, orang yang kita pikirkan dan serumah tidak menjadi tempat curhat yang tepat dengan perbedaan pandangan dan usia yang sangat berbeda satu sama lain seringkali menjadi permasalahan dan alasan kita untuk menghindari pembicaraan dengan orangtua. Karena apa yang terjadi pada anak seringkali membuat anak merasa dibandingkan saat cerita dengan orang yang lebih tua karena terkadang orang tua tidak memiliki pemikiran yang sejalan dengan anak yang kadang setiap kita menceritakan sesuatu tidak membuat kita lega tapi malah kepikiran dengan perkataan orang tua dengan versinya. Dari sini kebanyakan kenyamanan ditemukan saat anak bercerita dengan temannya.

Karolina Grabowska dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/teman-teman-mencari-senang-tersenyum-8003573/ 

Beberapa alasan anak nyaman curhat sama temannya menurut Dea dan Diyah 2 Mahasiswa Universitas Terbuka :

  1. Mempunyai masalah yang sama 

Bercerita dengan teman seusia dimana kebanyakan seperti adu nasib karena pasti melewati masa yang sama dengan permasalahan yang tidak jauh berbeda jadi ketika curhat dengan sesama pasti merasakan apa yang kita rasakan begitu juga sebaliknya, mendapatkan masukan yang sesuai porsi.

  1. Menggunakan bahasa yang santai

Terkadang bahasa yang kita gunakan juga mempengaruhi kenyamanan dalam berbicara, saat berbicara dengan teman kita akan lebih menggunakan bahasa yang apa adanya dan lebih santai jadi pembicaraan nya lebih nyambung tapi saat kita berbicara. Sedangkan orangtua harus menjaga perkataan yang membuat sakit hati atau menyentuh perasaannya jadi harus lebih berhati-hati kadang seperti itu yang membuat cerita kurang nyaman.

  1. Tidak malu saat menangis dalam proses curhat

Tidak jarang saat kita mengungkapkan isi hati pasti mengeluarkan air mata karena sedih ataupun karena lega dengan semua masalah di kepala yang telah kita ceritakan, kalau dengan teman pasti kita tidak merasa malu dan bisa nangis dengan lega tapi kalau sama orang tua pasti merasa malu.

 Karolina Grabowska dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/teman-teman-duduk-lantai-pembicaraan-8004825/ 

Alasan anak tidak nyaman curhat dengan orang tua karena pola asuh yang salah menurut Psikologi Ita Biliana: 

  1. Meremehkan pikiran anak

Meremehkan pikiran anak dalam berpikir, misal ‘’salah kamu tau apa sih’’ dan ketika anak mengutarakan pendapat langsung dipatahkan pemikiran si anak, pemikiran yang tidak pernah didengar oleh orang tua menjadi tertutupnya anak untuk bercerita apalagi curhat dengan orang tuanya.

  1. Membandingkan anak dengan orang lain

Walaupun kadang orang tua ingin membandingkan anaknya dengan orang lain dengan tujuan yang baik tapi itu tetap salah, lebih baik bandingkan dengan orang tua sendiri jangan orang lain apalagi yang lebih baik dari anaknya. Karena akan menimbulkan dampak negatif bagi anak dengan merasa dirinya tidak pernah cukup karena selalu ada yang lebih hebat dari dirinya, apa yang dilakukan hari ini tidak dihargai. Sebagai orang tua harus bisa menemukan area favorit untuk setiap anaknya agar tidak ada perbandingan antara anak yang satu dengan anak yang lain.

  1. Menyerahkan kendali pengasuhan anak ke orang lain

Tidak ada yang salah dengan orang tua yang bekerja tapi ada beberapa permasalah ketika mereka menyerahkan kendali ke orang lain terus ada kesulitan masalah yang seharusnya ada peran orang tua yang masuk tapi karena kendalinya ada di orang lain jadi orang tua lebih berserah terhadap pengasuhnya.  Jadi, orang tua tidak pernah tau apa yang dirasakan dan dilakukan anak setiap harinya, dan tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak juga sehingga anak berpikir yang menjadi peran orang tua adalah pengasuhnya bukan orang tuanya sendiri.

  1. Mematikan emosi anak

Ketika anak menangis seringkali orang tua melarangnya dengan berkata ‘’eh jangan nangis’’ serta berfikir anak tidak boleh lemah padahal itu membuat anak tidak bisa mengungkapkan emosinya padahal emosi perlu dikeluarkan dan dipahami bukan dibilang itu suatu hal yang lemah yang nantinya berdampak anak memiliki sikap tertutup, jadi lebih baik membiarkan anak memiliki emosi untuk dikeluarkan dengan cara yang tepat agar bisa mengontrol emosi dengan baik agar dapat pengetahuan bagaimana cara mengontrol emosi dengan baik agar tidak terjadi emosi yang seringkali menyala nyala.

-(YS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *